AI teman diskusi Bunda, dibangun dari masalah nyata oleh seorang engineer yang istrinya baru jadi ibu.
Semua bermulai dari pertanyaan sederhana: "Bayi 8 bulan boleh makan telur nggak ya?"
Istri saya baru pertama kali jadi ibu. Setiap hari ada saja yang bikin bingung — MPASI mulai dari mana, tekstur yang benar gimana, porsi segini cukup belum. Googling? Hasilnya kontradiktif. Tanya di forum ibu-ibu? Jawabannya kadang menyesatkan. Mau ke dokter anak? Harus janjian dulu, bayar Rp200-500 ribu, dan cuma bisa tanya satu-dua hal sebelum waktunya habis.
Resep MPASI dari Instagram? Kadang zonk — bahannya mahal, nggak sesuai usia bayi, atau malah nggak bergizi sama sekali. Yang dibutuhkan ibu muda itu bukan tumpukan informasi, tapi satu sumber yang bisa dipercaya, kapan saja, tanpa ribet.
Itulah kenapa BundaGizi lahir. Sebagai engineer, saya bangun AI yang benar-benar spesialis MPASI — yang datanya bukan dari opini, tapi dari panduan IDAI, standar WHO, dan database gizi Kemenkes. Yang bisa diakses 24/7 lewat WhatsApp, tanpa perlu install apa-apa.
BundaGizi bukan pengganti dokter. Ini teman diskusi yang datanya grounded — supaya Bunda bisa tanya kapan saja, dapat jawaban yang bisa dipercaya, dan tetap merujuk ke tenaga kesehatan untuk keputusan medis.